Diilhami dari Nasihat Imam An-Nawawi rahimahullah dan Imam Al-Ghazali rahimahullah
Lisan adalah nikmat besar yang dapat menjadi sebab keselamatan, namun juga dapat menjadi sebab kebinasaan. Banyak orang yang terjatuh bukan karena langkah kakinya, tetapi karena kata-kata yang keluar dari lisannya.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam berbagai penjelasannya menekankan pentingnya menjaga ucapan. Sementara Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa bahaya lisan sangat luas: ghibah, namimah, dusta, celaan, ucapan kasar, hingga perkataan sia-sia yang mengeraskan hati.
Ulama terdahulu memandang diam sebagai ibadah apabila ucapan tidak membawa manfaat. Mereka tidak berbicara kecuali setelah menimbang maslahat dan mudaratnya. Sebab, setiap kalimat yang terucap akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Pada zaman digital saat ini, menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan. Status, komentar, pesan singkat, unggahan, dan caption adalah bagian dari “lisan modern” yang tidak luput dari hisab. Maka seorang Muslim hendaknya memastikan bahwa apa yang ia sampaikan mengandung kebenaran, kelembutan, dan manfaat.
Pelajaran utama:
Lisan yang dijaga adalah cermin hati yang bersih. Semakin baik ucapan seseorang, semakin tampak kematangan iman dan akhlaknya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga Allah سبحانه وتعالى menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil pelajaran dari nasihat para ulama terdahulu, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kategori
Artikel Populer
Menemukan Thumaninah di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
02 Apr 2026
Menuntut Ilmu Jalan Mulia Para Pewaris Nabi
04 Apr 2026
Istiqamah Amal Sedikit yang Terus Dijaga
17 Apr 2026